Rabu, 31 Juli 2013

Roma. What I See So Far About The Mercato.

2 tahun era baru Roma gagal. 1 tahun pertama mencoba adaptasi tiki-taka Spanyol dengan membawa mantan pelatih Barcelona B, Luis Enrique, kemudian 1 tahun dikerjakan secara bergantian oleh Zdenek Zeman dan caretaker Aurelio Andreazzoli. Bukan tidak ada perbaikan, permainan, posisi klasemen hingga keberhasilan AS Roma untuk berlaga hingga final Coppa Italia di tahun kedua memperlihatkan sebuah progres. Sayangnya bagi kota sekeras Roma, hal itu tidak cukup.


Kini pelatih baru telah ditunjuk untuk membawa warna baru kota Roma. Rudi Garcia,mantan pelatih yang sukses membawa Lille juara Ligue One 2010/2011 ditunjuk untuk membawa angin segar bagi AS Roma. Penunjukan kali ini lebih make sense. Mengingat pelatih Roma 2 tahun sebelumnya, yang satu mantan pelatih Barcelona B (Divisi 2 Liga Spanyol), serta mantan Juara serie B (Pescara). Jelas bukan pelatih berlatar belakang seperti itu yang diinginkan manajemen Roma. Roma butuh seorang pelatih juara yang sesuai dengan visi Roma yang concern terhadap pemain muda. Garcia it is.

Revolusi ketiga dimulai. Satu per-satu pemain keluar dan masuk. Kali ini, kiper timnas Belanda Maarten Stekelenburg dilego menuju Fulham dengan mahar 4 juta pounds+add ons, serta bek muda potensial Marquinhos menuju Paris Saint Germain dengan biaya transfer 31,4 juta pounds. Sementara itu transfer masuk Roma bisa dibilang cukup menjanjikan. Mantan kiper utama Napoli, Morgan De Sanctis, former Internazionale, Maicon, Mehdi Benatia, Tin Jedvac, Skorupski, dan Kevin Strootman.

Morgan De Sanctis jelas memiliki pengalaman dan kapabilitas luar biasa sebagai kiper utama serie A, namun kelemahan yang paling jelas adalah usia yang kini menginjak 36 tahun. Sementara Maicon, yang gagal berkembang bersama Manchester City kembali ke Italia untuk membuktikan kembali dirinya pantas masuk skuad Brazil di World Cup 2014, jelas ini akan menjadi keuntungan bagi Roma yang hingga kini memiliki masalah pada sektor full-back di zaman Ivan Piris. Kehadiran Tin Jedvac dan Skorupski membuktikan Roma masih concern dalam investasi pemain muda. Mehdi Benatia, salah satu bek terbaik di Serie A, diharapkan menjadi jawaban atas buruknya lini belakang Roma. Kevin Strootman is Kevin Strootman. PSV Eindhoven’s captain, Netherland national team’s captain.

Baiknya, jelas tidak ada berbagai gambling dalam membeli pemain utama seperti ketika merekrut Panagiotis Tachtsidis, Ivan Piris, Jose Angel, dan lain sebagainya. Kini Roma fokus merekrut pemain yang jelas memiliki kapabilitas untuk menambal kelemahan tim. Tinggal bagaimana Rudi Garcia memanfaatkan pemain pemain tersebut untuk kembali membawa AS Roma ke kasta tertinggi Liga Italia.

Bursa Transfer belum selesai. Saga transfer Gervinho terus berjalan. I want to honestly said bahwa Roma masih butuh beberapa pemain. Roma butuh minimal 1 full-backmengingat performa buruk Balzaretti dan Dodo musim lalu. Serta Roma butuh winger lain selain Gervinho, setidaknya untuk melapis Lamela mengingat Caprari belum menunjukkan performa yang memuaskan sebagai sub. Dan jikalau Kevin Strootman bukan Mister X yang dimaksud Sabatini. We are really looking forward to find out who. Dan semua tentu berharap jawabannya adalah seorang playmaker seperti Totti. Seraya kita mengingat kembali bahwa Christian Erikssen mengaku dirinya seorang Romanisti. J


Forza Roma.

Selasa, 28 Mei 2013

Saya dan Pendapat Saya tentang Situasi KAI vs Pedagang. #KAIvsHumanity


Saya membuka niat menulis tulisan ini dengan mengucap Alhamdulillah sebagai bentuk rasa syukur saya diperkenankan oleh Allah SWT untuk berkuliah di Universitas Indonesia khususnya Fakultas Ekonomi. Sebuah Fakultas yang berisikan berjuta pendapat yang terbagi dalam berbagai sisi. Pro baik secara radikal, pro secara substansi, kontra secara substansi, kontra secara radikal, hingga moderat. Dari apa yang disampaikan mereka juga lah saya bisa menggunakan otak saya untuk berpikir, hati saya untuk merasa, dan mengkombinasikan keduanya dalam sebuah sikap yang saya percayai itu benar.

Tulisan ini hanya melanjutkan apa yang pernah saya tulis sebelumnya,hendaknya melihat dulu tulisan saya sebelumnya untuk lebih jauh membaca sikap hari ini. Yap hari ini adalah hari dimana puluhan mahasiswa kesiangan untuk ikut kelas pagi hari, ratusan orang yang hendak bekerja melalui jalan Margonda Raya terhambat, serta puluhan pedagang yang hendak digusur. Jelas, siapapun anak FE yang melihat situasi ini dapat melihat berapa kerugian pagi ini. Opportunity cost orang orang yang terbuang akibat situasi hari ini. Sikap ini sebetulnya juga hanya menyempurnakan apa yang saya tweet tadi malam.

Dari awal saya punya standing point bahwa kedua belah pihak (KAI dan Pedagang) mempunyai tuntutan masing masing, dan didalamnya terdapat pula asymmetric information yang menghubungkan kedua belah pihak tersebut. Apa yang menjadi dasar pemikiran saya adalah KAI telah lama melakukan pembiaran atas apa yang hari ini disebutnya ilegal, mengganggu kenyamanan, serta konon memiliki bergaining power berupa sebuah klausul yang menyatakan bahwa pihak KAI berhak untuk melakukan pengambil alihan lahan kelak. Lihat versi pedagang, konon pedagang juga memiliki klausul agar PT.KAI melakukan dialog sebelum penggusuran, pemberian waktu yang irasional (H-7 hingga H-1) untuk melakukan pengosongan kios (penggusuran beberapa bulan lalu), serta yang tidak bisa kita tutup matanya adalah aksi penggunaan preman di pagi buta dalam merobohkan kios di stasiun Pondok Cina. Sementara mahasiswa ikut hadir untuk memfasilitasi, pro terhadap penertiban, namun ingin memastikan ada hak hak yang tidak ternodai. Sayangnya peristiwa ikut pemblokiran rel (entah siapa yang memulai) membuat sebagian orang memicingkan mata atas apa yang dilakukan mahasiswa.

Secara hukum, saya tidak bisa menilai siapa yang lebih benar, karena seperti yang saya bilang semalam, mencari tau siapa yang benar di tengah suspect kesalahan yang menghinggapi kedua belah pihak sama seperti sebuah partai korup yang beralibi, partai lain lebih korup dibanding mengakui partainya korup.
Apa sikap saya? Mustahil KAI melakukan relokasi seperti yang menjadi tuntutan pedagang. Based on perhitungan kakak kelas saya, cost nya bisa Milyaran. Tidak mungkin KAI mau. Pedagang? Jika saja mau berkompromi sebetulnya tidak etis juga meminta relokasi dan ganti rugi yang pas jika pembuktian bahwa perjanjian mereka adalah perjanjian yang sah, bukan dari makelar, atau pihak ketiga susah untuk dibuktikan. Karena toh pernah ada yang berkicau bahwa sudah jadi rahasia umum banyak negosiasi sewa lahan yang dilakukan oleh pihak ketiga yang tidak bertanggung jawab. Lagi lagi KAI punya andil disini melakukan pembiaran mafia sewa kios. Satu lagi dosa KAI yang belum saya sebut adalah konon tidak adanya itikad baik untuk duduk bersama berdiskusi masalah ini. Wallahu alam bis sawwab.

Win win solution? Atas eksternalitas negatif yang dilakukan KAI, hendaknya KAI memberikan tenggat waktu sebagai social cost perbuatannya. Yang bukan H-7 atau H-1. Pedagang juga sudah mulai mencari lahan baru untuk berjualan (yang jelas tidak mudah mencarinya) semenjak tahu permasalahan ini akan naik ke permukaan. Berbau kompromi? Jelas. Semua pihak harus tahu diri bahwa KAI punya bargaining power kuat dan didukung segenap pengguna commuter line. Jalan terbaik adalah saling menurunkan tuntutannya.
Sempat redupnya kasus ini yang di tanggal 21 Mei sempat gue indikasikan sebagai jalan KAI untuk secara tidak langsung menyediakan social cost berupa waktu untuk pedagang melakukan relokasi. Yang menyedihkan hal ini dilakukan secara tidak langsung, bukan secara langsung dan dua arah. Lagi lagi ada kesewenangan disini. Be rational, KAI memiliki bargaining power kuat.  Maka hendaknya disini ada peran mahasiswa yang 2 arah. Advokasi terhadap KAI dan mempersiapkan kemungkinan terburuk yaitu relokasi mandiri (inisiasi ka Alia Noor). Andai saja ini dilanjutkan. Hari ini tidak akan terjadi.

Tapi nasi sudah jadi bubur. Semua pihak memiliki potensi kesalahan. Sekarang gimana caranya mengubah bubur jadi lebih enak. Memberikan perhatian yang lebih untuk semua pihak. Mengawal progresivitas KAI yang terus baik (kita ga bisa menutup mata atas perbaikan KAI di kereta lintas Jawa), serta mengawal para pedagang dan memastikan mereka mendapat tempat baru yang layak. Sayang jika pertumbuhan negeri ini harus ternodai dengan bentrokan hari ini yang (semoga) tidak terjadi. 


Andhika Putra Pratama
Rabu, 29 Mei 2013
10:15

Senin, 14 Januari 2013

Saya dan Pendapat Saya Mengenai Kasus Pedagang dan PT. KAI


Silakan membaca tulisan ini dengan sejenak melupakan kalimat kalimat yang bernada skeptis seperti, “ini masalah rakyat kecil, mereka ga tau rasanya jadi rakyat kecil” ataupun “ga selamanya rakyat kecil harus dibela, mereka harus sadar kalau rakyat bukan hanya mereka”. Mari sama sama kita saling memahami apa yang ada dipikiran seseorang dan apa yang dipikirkan oleh seorang yang lainnya.

Permasalahan pedagang, mahasiswa dan PT.KAI diawali dengan keinginan dari PT. KAI untuk menertibkan dan merapikan stasiun guna menambah kualitas pelayanan kereta api Jabodetabek. Semua pasti setuju dengan pembenahan ini. Tidak ada pengecualian, tidak ada bantahan. PT. KAI butuh space yang lebih untuk meningkatkan kualitas stasiun, sementara ada pedagang di stasiun kereta api yang telah lama menghinggapi stasiun serta pinggiran stasiun untuk berjualan. Ada yang ilegal (asal templok), ada pula yang diketahui memberikan uang sewa kios dan lain sebagainya untuk jangka waktu tertentu, kabar terakhir masih ada yang sampai Maret dan Agustus 2013. Disini muncul perlawanan arah.

Di bulan Desember 2012, tercatat minimal, stasiun lenteng agung, depok baru dan beberapa stasiun digusur dengan rata rata pemberitahuan h-1 hari sampai h-7 hari (h-1 minggu). Mahasiswa (bukan hanya UI) menuntut adanya penundaan penertiban bahkan relokasi akibat masih adanya beberapa kios yang masih memiliki masa berlaku sewa. Atau setidaknya, mahasiswa ingin PT.KAI dengan pedagang sama sama berdialog.KOMNAS HAM setuju untuk itu dan mengajukan surat ke PT. KAI.

Hari ini, 14 Januari 2013. Beberapa mahasiswa beserta pedagang stasiun se-Jabodetabek melakukan aksi di depan istana negara menuntut adanya dialog antara PT. KAI dengan pedagang. Situasi menjadi sulit dan panas ketika diketahui ada segerombolan orang yang datang untuk menggusur kios kios di stasiun Pondok Cina. Situasi keruh, pendugaan sana sini, pedagang dan mahasiswa merasa dirugikan. Mereka menuntut adanya dialog, namun apa yang terjadi? Penggusuran oleh oknum secara sepihak. Logika praduga mulai bermain, tidak sedikit menuduh oknum PT. KAI. Pedagang dan mahasiswa geram dan melakukan blokir puing serta manusia di stasiun Pondok Cina. Situasi makin keruh, pelayanan kereta api dari dan menuju Bogor terhambat. Semua elemen rakyat merugi. Salah siapa?

Saya dan Pendapat Saya

Sebagian orang bertanya. 
“Lo ikut aksi? Dukung pedagang donk?”.
“Lo tadi ke stasiun? Menurut lo pedagang emang bener?”.
“Lo mau dipimpin demo sama anak akprop yang kerjaannya mencaci tanpa data?”
“BEM UI kan kebanyakan aksi, sekarang lo ikut juga?”

Sejenak kita lupakan beberapa variabel diluar permasalahan ini. Saya bukan orang yang pro-terhadap banyaknya AKSI yang dilakukan oleh BEM UI. Saya orang yg sepakat bahwa banyak AKSI yang tidak urgent dan esensial untuk dilakukan. Tapi mari sejenak melupakan apa yang menjadi pengganjal hati kita. Mari fokus untuk berbicara mahasiswa, pedagang dan PT. KAI.
1.       Adalah penting untuk merenovasi stasiun, berulang kali gue bilang gue cinta kereta api. Selama masih ada rel kereta, tidak ragu gue akan memilih kereta api sebagai sarana untuk berpergian. Kita ingin pelayanan. Pelayanan PT. KAI ada peningkatan saya setuju, khususnya lintas Jawa.
2.       Pedagang adalah eksternalitas negatif. Dan untuk membereskannya, PT. KAI mau tidak mau harus mengeluarkan social cost, bagaimanapun bunyi hukumnya.  Adalah tidak terpuji bagi PT. KAI untuk sekedar menggusur tanpa melihat bahwa pedagang memiliki bukti perjanjian jual beli/sewa kios. Jikalaupun itu ilegal, begitupun sama dengan perumahan kumuh di bantaran rel, bertahun-tahun PT. KAI telah melakukan pembiaran terhadap hal tersebut bertahun-tahun. Kronis. Pedagang sudah masuk comfort zone mereka, direnggut comfort zone-nya tanpa kejelasan? Wajar untuk berontak.
3.       Menyadari bahwa selalu ada kemungkinan makelar dan pihak ketiga yang tidak bertanggung jawab yang memanfaatkan celah antara pedagang dengan PT. KAI. Karena kita sadar betul kita ada di negara dunia ketiga, bukan negara dunia pertama. J. Mungkin saja uang tidak masuk ke PT. KAI? Siapa yang tau? Tapi toh kenapa pedagang bisa berdagang di tempat yang jelas milik PT. KAI dan PT. KAI dapat melihatnya berdagang lalu membiarkannya? Lagi lagi pembiaran adalah kelalaian, kelalaian adalah awal munculnya eksternalitas negatif. Dan wajib bagi PT. KAI untuk mengeluarkan social cost.
4.       Melihat urgensi dan ketersediaan dana, mustahil bagi PT. KAI untuk melakukan relokasi. Butuh dana milyaran rupiah untuk merelokasi pedagang stasiun se-Jabodetabek. Tapi menggusur adalah pilihan terburuk, karena merugikan pedagang yang sudah masuk comfort zone sebagai efek pembiaran dari PT. KAI. Pedagang meminta relokasi pun terlalu muluk, mengingat mereka sadar betul punya tenggat waktu untuk berdagang. Maka solusi social cost yang paling tepat adalah memberikan waktu bagi para pedagang untuk mencari tempat baru untuk berdagang, memberikan masa transisi yang wajar dan manusiawi, tidak dengan asal gusur.
5.       Mengutuk tindakan PT. KAI yang sewenang-wenang dalam melakukan penertiban. Kita sama sama setuju terhadap perapian dan penataan stasiun. Namun tidak instan dan memastikan ada hak-hak yang tidak terlupakan dalam proses transisi tersebut. PT. KAI harus sadar bahwa ia menimbulkan eksternalitas negatif, sehingga butuh mengeluarkan social cost. Dan sadar bahwa tidaklah elok melihat sesuatu yang instan. Kita butuh perubahan, bukan revolusi. Tidak ada cara yang cepat dan murah. Kalo mau murah, beri waktu bagi pedagang untuk transisi.
6.       Siapapun yang melakukan penggusuran ketika pedagang tidak ada di tempat adalah tindakan yang keji. Suasana menjadi semakin keruh. Dan logikanya, pedagang akan menuduh ini perbuatan PT. KAI.
7.       Adalah salah bagi pedagang dan mahasiswa untuk memblokir rel kereta api sehingga pelayanan masyarakat terganggu. Ada rakyat sipil yang tidak bersalah menjadi korban dan mengalami kerugian.
8.       Kita harus sadar bahwa kita hidup di negara dunia ketiga, dimana korupsi masih merajalela, dan sangat sulit menembus birokrasi. Adalah benar dan nyata bahwa PT. KAI tidak mau berdialog entah kenapa, sebagai buktinya adalah KOMNAS HAM yang telah menghubungi PT. KAI lewat berbagai cara, dan mahasiswa telah mencoba untuk bertemu lewat berbagai pintu birokrasi, sayangnya dialog tak jua dapat dilaksanakan, sehingga mahasiswa dan pedagang (khususnya) yang merasakan gusur tanpa pemberitahuan, geram dan mencoba untuk menggertak PT. KAI untuk hadir dengan memblokir rel berharap PT. KAI dapat melihat betapa geramnya pedagang yang sulit berdialog dengan PT. KAI.
9.       Adalah benar tindakan mahasiswa untuk menjembatani antara pedagang yang memiliki intelektualitas dan pemahaman hukum ,ekonomi dan keadaan tidak lebih baik dari mahasiswa yang lebih beruntung. Sehingga adalah keputusan yang tepat membantu pedagang mengadvokasi dialog dengan PT. KAI, sehingga tidak ada tanggung jawab yang dikebiri oleh pihak manapun.
10.   Adalah penting bagi kita untuk tidak melontarkan kalimat kalimat yang bernada skeptis untuk menanggapi masalah ini, tanpa memberikan solusi yang jelas apa yang harus dilakukan. Dan adalah kewajiban bagi setiap orang untuk menghargai dan mencoba memahami apa yang menjadi alasan mendasar seseorang berpendapat, tanpa berprasangka buruk mengenai motif dibelakangnya.
11.   Wallahu alam bis sawwab.

Andhika Putra Pratama
14 Januari 2013. 18:55

Sabtu, 12 Januari 2013

ASUMSI


Berbicara mengenai hidup, maka berbicara mengenai interaksi. Semua orang berinteraksi satu sama lain. Secara langsung atau tidak langsung mereka bertukar ilmu. Interaksi secara langsung dua arah dinamakan diskusi. Well, seberapa penting dan vital sih sebuah diskusi? Diskusi bagaimana yang ideal? Apa hubungannya sama judul diatas? We’ll see.

Pernah suatu ketika gue mendapati sebuah problem yang sifatnya vital. 2 orang berdiskusi tentang sesuatu yang esensial dan mengganggu comfort zone ideologi lawan bicaranya. Langsung aja contoh, misalnya suatu ketika 2 orang berbicara tentang kapitalisme, yang satu netral yang satu libertarian. Ketika orang neutral mengeluarkan kalimat yang seolah melakukan judge bahwa kapitalisme itu buruk, seorang libertarian akan membantahnya. Fase pembantahan ini sebetulnya tidak masalah, yang bermasalah adalah seringkali kita tidak melihat dari sudut pandang orang lain mengapa ia menyebutnya salah.

Contoh lain yang lebih spesifik masalah riba, seseorang yg sangat pro bahwa bunga bank adalah haram ketika dikeluarkan sebuah statement bahwa tidak semua bunga adalah haram, akan bereaksi menentang. Begitupun masalah lain, misalnya , urgensi hutang (kenapa harus utang?), buruknya sosialis (sosialis berhasil apa?) dan lain sebagainya di berbagai sudut ilmu manapun seseorang yang mendengar kalimat yang bertentangan akan ideologinya seringkali terlampau cepat menentukan sikap. Sekali lagi gue tegaskan, tidak ada yang salah dengan penyikapannya. Gue pun akan melakukan yang sama, tapi hendaknya kita menghargai apa yang mereka sampaikan, sudut apa yang jadi titik pandang mereka, dan asumsi apa yang mendasari mereka berpikir.

Tulisan ini hanyalah sebuah tulisan di malam minggu yang asalnya dari sebuah ketergugahan terhadap melihat cara pandang manusia. Tidak seperti binatang, manusia memiliki otak untuk berpikir. Tidak etis menyebut satu manusia tidak lebih cerdas dari manusia yang lain sama halnya dengan tidak etis menyebut seorang manusia memiliki keimanan yang lebih tinggi dari orang lain. Yang harus kita lakukan adalah belajar menempatkan diri menjadi orang lain. Belajar melihat cara pandang orang lain, dan memahaminya. Memahami setiap asumsi yang digunakan setiap manusia. Toh, mengukur siapa miskin siapa kayak saja menggunakan asumsi, bukan? J

Sabtu, 12 Januari 2013
20:45



Kamis, 10 Januari 2013

Menyelesaikan Masalah di 2013


Tidak terasa 366 hari perjalanan tahun 2012 telah usai. Beraneka momen dan peristiwa telah hadir sebagai bentuk pembelajaran bagi setiap yang melaluinya, begitupun Indonesia. Berbagai peristiwa baik positif maupun negatif dari berbagai segi bidang kehidupan telah hadir dan mewarnai tanah ibu pertiwi. Mulai dari yang sesuai ekspektasi, maupun diluar ekspektasi. Semua terangkum dalam sebuah buku besar catatan sejarah nasional dengan segala fenomena di dalamnya. Tahun 2012 juga akan menjadi catatan cerita istimewa sendiri layaknya tahun tahun sebelumnya bagi kelangsungan hidup rakyat Indonesia.

Hampir setiap bidang kehidupan di Indonesia memiliki catatan besar tersendiri di tahun 2011. Dari bidang ekonomi, Indonesia sempat tersenyum dengan kembalinya label investment grade ke pangkuan ibu pertiwi sejak terakhir runtuh di tahun 1998, namun sesaat setelahnya diguncang pro kontra perihal kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang sempat mencuat lantang di DPR. Politik pun jadi konsumsi publik yang cukup kuat di tahun 2012, utamanya kontes pemilihan kepala daerah (pilkada) DKI Jakarta. Hiruk pikuk pilkada ibukota tidak hanya menyeret warga Jakarta, namun juga seluruh masyarakat Indonesia yang ter-encourage untuk melihat siapa pemimpin representasi sebuah ibukota negara besar dengan permasalahan multidimensional seperti Jakarta. Begitupun masalah korupsi, setelah sibuk dengan bank Century, kini Indonesia disibukkan dengan kasus proyek Hambalang, hingga yang masih lekat di ingatan rakyat adalah gagalnya timnas sepak bola Indonesia di piala AFF sebagai buah dualisme kepimpinan PSSI-KPSI.

Masalah masalah diatas menuntut untuk diselesaikan di tahun 2012, dan jelas tidak ada alasan untuk menunda penyelesaian masalah tersebut.Tidak ada yang ingin kasus Hambalang bernasib sama dengan kasus kasus korupsi sebelumnya yang hilang ditelan waktu. Tidak ada yang tidak ingin melihat timnas sepak bola Indonesia meraih kejayaan setelah seblumnya selalu tertunda oleh permasalahan politik di tingkat elitis. Dan pasti seluruh rakyat menginginkan sebuah win win solution atas masalah subsidi BBM. Membiarkan masalah ini akut hanya akan jadi bom waktu bagi bangsa ini. Semua harus diselesaikan secara tuntas oleh pemerintah beserta stakeholder terkait agar negeri ini dapat kembali melanjutkan pertumbuhan serta pembangunannya menuju bangsa yang lebih sejahter adan bermartabat.

Tidak ada masalah yang tidak memiliki hikmah. Bagaimanapun kompleksnya permasalahan yang timbul di tahun 2012, setahun kebelakang tetaplah merupakan sebuah pembelajaran bagi bangsa ini dalam menghadapi tahun tahun ke depannya. Tahun 2012 adalah dasar segala pertimbangan kebijakan 2013, dan tahun 2013 adalah pisau eksekusi bagi setiap permasalahan di tahun 2012. Bangsa ini memiliki banyak potensi sumber daya di berbagai sektor kehidupan, tinggal bagaimana pemerintah dapat melakukan managing yang baik untuk membawa negeri ini tetap ada di trek yang benar menuju kesejahteraan. Semoga berbagai permasalahan yang terjadi setahun yang lalu dapat menjadi sebuah cermin refleksi diri negeri ini dalam proses berubah menjadi negeri yang maju. Proses yang kelak akan berujung pada sebuah keselarasan dalam hidup, sesuai dengan amanat konstitusi dan cita cita negara.

Tulisan ini dimuat di Harian Seputar Indonesia
Rubrik Suara Mahasiswa
Januari, 2013

Selasa, 11 Desember 2012

Memutuskan Untuk Turun


AKSI.
Sebuah kata yang heroik bagi sebagian mahasiswa.
Namun juga menjadi sebuah kalimat yang menyebalkan bagi sebagian mahasiswa.
Kenapa?

Mahasiswa, dalam hal ini sampel saya adalah Universitas Indonesia, terbagi dalam dua pihak dalam menyikapi keputusan unuk melakukan AKSI. Setuju atau Tidak Setuju. Adakah yang salah? Pihak pro atau kontra? Penyikapannya sangat tergantung dengan apa yang terjadi di lapangan. Terlalu naif untuk berkata mahasiswa tidak butuh AKSI. Sejarah di tahun 1998 akan menjadi tameng besar bagi mereka yang hanya memiliki alasan tersebut. Pada tahun itu, mahasiswa seluruh Indonesia memiliki musuh yang sama, para penguasa orde baru, yang pada saat itu secara terang terangan menutup mulut rakyat, menekan rakyat, yang di-cover dengan pembangunan ekonomi berlandaskan hutang luar negeri. Setidaknya itu yang saya dapatkan ketika bertanya ke mayoritas orang (walaupun para ekonom, mahasiswa ekonomi akan sangat tidak setuju jika dikatakan pembangunan dengan hutang adalah hal yang sia-sia, termasuk saya, termasuk pula Sri Edhi Swasono). Apa yang terjadi dengan pergerakan mahasiswa pada saat itu, sangat frontal karena tidak ada wadah yang memungkinkan menerima pendapat mereka. Musuh mereka sama, memberhentikan ketidak-adilan apapun caranya, at any cost.

Mari putar waktu ke era dimana kita berdiri saat ini. Kenapa harus ada demonstrasi, kenapa harus ada AKSI, dan kenapa harus bernama “AKSI”. Kita dapat break-down menjadi beberapa alasan, mulai dari yang hard reason, hingga soft reason.
a. AKSI adalah bentuk pengabdian mahasiswa kepada rakyat yang membiayai kuliah mereka.
Anggapan ini benar, namun apa yang ada di benak masyarakat ketika mereka melihat mahasiswa justru menghancurkan fasilitas umum yang dibeli dengan uang rakyat. Mahasiswa justru ricuh di balkon ruang paripurna DPR, ketika para wakil rakyat ingin memutuskan seberapa pantas harga BBM naik. Rakyat mana yang bangga?

b. Ketika mahasiswa turun ke jalan, adalah sebuah sinyal hati hati bagi pemerintah, karena ada sesuatu yang genting sedang melanda bangsa ini.
Seberapa genting bangsa ini, ketika ada seruan AKSI untuk menurunkan SBY dalam rangka 3 tahun (8tahun total), pemerintahan SBY? Keadaan yang begitu kondusif seperti sekarang, yang merupakan hasil kerja keras para pemimpin negara untuk men-stabil-kan kondisi negeri agar tidak kembali terulang seperti 1998? Bukankah dengan menurunkan SBY hanya akan membangun negeri ini kembali dari 0? Siapa yang mau gantikan SBY ketika yang tersedia hanyalah Wapres Boediono, Abu Rizal Bakrie, Prabowo Subianto, atau kembali ke zaman Megawati Soekarno Putri? Tidakkah ada kajian kausalitas yang dilakukan?

c. AKSI dilakukan ketika perjuangan lewat kajian tidak menemui jalan keluar.
Bohong jika tidak ada wadah bagi mahasiswa untuk menyampaikan pendapat, karena BEM FE UI berkali kali berhasil berdiskusi dengan anggota DPR untuk masalah APBN. Yang jadi pertanyaan adalah seberapa besar kita dapat mengutarakan rasionalisasi alasan, mendebat hingga akhir, dan memanfaatkan wadah tersebut sebaik mungkin. Bukan kembali ke cara lama yang sarkastis, seolah tidak ada wadah untuk melakukan diplomasi. Dan satu hal, bersabar menerima proses.

d. AKSI adalah bentuk kepedulian mahasiswa, kepada pemerintah selaku penanggung jawab negeri ini.
Tepat. Sayangnya terkadang bentuknya salah. Apresiasi besar bagi BEM UI yang menunjukkan secara jelas bagaimana AKSI seharusnya dikemas. Flash mob, menerbangkan layangan, teatrikal dan lain sebagainya. AKSI dorong dorongan dengan polisi, satpam DPR hanya akan adalah lembaran lama yang asumsi kejadiannya-pun  berada dalam kondisi yang berbeda.

e. Kenapa harus bernama AKSI?
kata “AKSI” terkesan heroik bagi sebagian orang yang hidupnya mudah tersulut heroisme. Hanya saja, jika hanya mengandalkan orang orang yang memiliki jiwa heroik, kapan AKSI akan ramai? Bukan kah tujuan AKSI adalah pergerakan mahasiswa? Menggerakkan setiap elemen mahasiswa. Bukan sebagian mahasiswa. Secara kasar, saya katakan, mereka yang mudah tersulut api heroisme adalah mereka yang menyikapi AKSI secara inelastis, tidak usah takut orang orang tersebut memutuskan untuk tidak ber-AKSI ketika nama “AKSI” kita ubah.

Tulisan ini tidak dibuat untuk menyudutkan AKSI pergerakan mahasiswa. Saya sendiri ikut langsung dalam AKSI memperingati Hari Anti Korupsi yang dilakukan BEM UI kemarin. 9.12. Namun yang disayangkan, yang hadir hanya 1/10 dari target. 200an orang dari target 2000-an (konon). Sangat timpang jika dibandingkan dengan ragam sosialisasi eye catching tentang 9.12. Masih menyalahkan ketidakpedulian mahasiswa? Saatnya introspeksi tentang branding dari AKSI itu sendiri.

Ada beberapa pilihan nama yang dapat digunakan untuk mengganti kata “AKSI”. Sebagai contoh, AKSI Hari Anti Korupsi kemarin, kenapa tidak berbunyi Kampanye Hari Anti Korupsi, Gerakan Hari Anti Korupsi, atau apalah itu asal bukan AKSI, asal tidak berbabau sarkastis, agar terlihat soft, bersifat mengajak, bukan membentak seolah kita seharusnya sadar.

Memutuskan untuk melakukan AKSI adalah hak setiap orang. Keputusan untuk melabeli, mereka yang tidak mengikuti AKSI sebagai mahasiswa yang tidak peduli adalah pencorengan nama baik. Setiap orang memiliki asumsi cost dan benefit masing masing. Yang harusnya menjadi pertanyaan adalah bagaimana meninggikan benefit seorang mahasiswa untuk turun, bergerak untuk menyampaikan pesan tanpa harus takut dibayangi oleh kengerian demonstrasi, dorong dorongan, atau baku hantam dengan polisi.

Kita sadar, hari ini jauh lebih baik dari tanggal yang sama 14-15 tahun yang lalu.
Apakah mungkin kita benar benar resah, atau mungkin kita hanya tergesa-gesa menilai kondisi hari ini?
Manusia tidak dapat membuat candi terbaik dalam 1 malam, apalagi membuat negeri dengan masalah yang multi-dimensional ini kembali layak untuk disebut negeri.
Jangan jangan kita kurang bersabar, atau kurang bersyukur?
Haruskah kita AKSI?J

“..mungkin saja, ketika segala sarana untuk menyampaikan pendaat telah berjalan dengan baik, AKSI demonstrasi mahasiswa hanya akan menjadi romantisme masa lalu belaka..”
(anonymous)

Senin, 10 Desember 2012

Menyelesaikan Masalah Sepak Bola Indonesia


Kekalahan 2-0 atas Malaysia di Stadion Bukit Jalil, Kuala Lumpur, Malaysia beberapa hari yang lalu, tidak hanya memupuskan harapan untuk melihat Indonesia mengangkat piala AFF kali pertama sejak awal penyelenggaraan, namun juga kembali membuka borok sepak bola Indonesia di tingkat hulu. Sorot tajam masyarakat pemerhati sepak bola kembali mengarah kepada para pemimpin sepak bola Indonesia di tingkat elitis, yang sejak 2 tahun lalu, tak pernah luput dirundung masalah.

Apa yang dialami timnas Indonesia di Piala AFF 2012 adalah muara dari segala polemik politisasi sepak bola negeri ini. Perebutan kekuasaan kepemimpinan PSSI, berdirinya PSSI tandingan bernama KPSI yang mengakibatkan terbentuknya 2 timnas Indonesia, serta pelarangan pemain pemain yang berlaga di Indonesian Super League (ISL) untuk membela timnas adalah segelintir lelucon tidak lucu yang dilakukan oleh para elitis pengurus sepakbola negeri ini. Kebijakan-kebijakan konyol tersebut sangat jauh dari memikirkan keberlangsungan iklim sepak bola nasional yang kondusif, apalagi untuk berangan angan menjuarai kompetisi tingkat ASEAN.

Kondisi seperti ini mau tidak mau harus segera diakhiri. Membiarkan semrawut-nya sepak bola nasional tidak hanya membunuh nama Indonesia di mata pemerhati sepakbola ASEAN bahkan dunia, namun juga melepas salah satu tools besar pemersatu bangsa. Tidak akan ada lagi 75.000 manusia berbondong bondong meneriakkan nama bangsa seraya menyanyikan lagu kebangsaan dengan lantang dan tangis haru. Semua itu hanya akan jadi romansa sepak bola masa lalu yang dimakan ego elitis sepak bola Indonesia di tingkat hulu.

Intervensi mutlak dilakukan dalam waktu cepat. 2013 ada Sea Games, dan 2014 Piala AFF akan kembali digelar. Masa depan sepakbola Indonesia akan ditentukan dari sejauh mana permasalahan di tingkat elitis selesai. Bagaimana memberikan kenyamanan bagi pelatih untuk memilih pemain terbaik dari liga manapun, serta memberikan keamanan bagi pemain manapun untuk membela merah putih. Jangan tanyakan materi pemain, era Bambang Pamungkas mungkin sudah usai, namun kita harus menyambut era Andik Vermansyah serta Syamsir Alam cs yang di 2014 akan berada pada masa masa terbaik untuk membela Indonesia.

Mata rantai perebutan kekuasaan sepak bola untuk alasan politis harus segera diputus. Tidak ada yang ingin kegagalan ini berulang, tidak pula ada yang ingin bakat bakat pesepak bola nasional di sia siakan hanya karena kepentingan sekelompok golongan. Reformasi sepak bola nasional mutlak diperlukan dengan tidak hanya melibatkan pemerintah, namun juga PSSI, klub, pemain serta supporter. Reformasi wajib hukumnya untuk pembaharuan sepak bola nasional, karena dengan diam, kita hanya akan menunggu bom waktu bernama sanksi FIFA akan meledak dan menampar wajah pesepakbolaan negeri ini.

Tulisan ini dimuat pada Harian Seputar Indonesia
Desember, 2012